Presiden Sukarno-Pun Berterima Kasih Kepada Jenderal Suharto Yang Telah Mengerjaken SUPERSEMAR

JAS MERAH BUAT PKI::
Presiden Sukarno-Pun Berterima Kasih Kepada Jenderal Suharto Yang Telah Mengerjaken SUPERSEMAR (Surat Perintah Sebelas Maret) Untuk Memulihkan Keamanan Negara Dengan Baik Pasca Pemberontakan PKI 1965 SEKALIGUS KUTUKAN PRESIDEN TERHADAP GESTOK/G30S-PKI & DIADILINYA PARA PELAKU YANG TERLIBAT GESTOK DI MAHMILUB

Segores pena tuk melawan hujatan Neo-PKI dan kompradornya beserta segenap Mucikarinya

 

PKI Tumbuh Meraksasa Dibawah Naungan Ideologi Nasakom Bung Karno

Seorang sosialis Belanda Henk Sneevliet dan Sosialis Hindia lain membentuk tenaga kerja di pelabuhan pada tahun 1914, dengan nama Indies Social Democratic Association (dalam bahasa Belanda: Indische Sociaal Democratische Vereeniging-, ISDV). ISDV pada dasarnya dibentuk oleh 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, SDAP dan Partai Sosialis Belanda yang kemudian menjadi SDP komunis, yang berada dalam kepemimpinan Hindia Belanda.

PKI-didirikan-oleh-seorang-B

Gambar 1. PKI didirikan oleh seorang Belanda sosialis
Url: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Indonesia

soekarno-dan-aidit

Gambar Aidit dan Presiden Soekarno.

Pada perkembangan berikutnya….
Adalah fakta bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) dan Presiden Sukarno memiliki kedekatan hubungan yang erat satu sama lain. Di masa Presiden Sukarno hanya dalam tempo 17 tahun saja -pasca peristiwa pemberontakan PKI 1948- PKI telah menjelma menjadi kekuatan resmi yang sangat besar yang berhasil menyusupkan kader-kadernya ke jajaran tinggi pemerintahan baik sipil maupun militer. Allahul musta’an.
Cukuplah paparan dan bukti arsip video ulang tahun PKI dibawah ini sebagai bukti kedekatan PKI dan para petingginya (semisal Aidit) dengan Presiden Sukarno.

Nukilan:
“PADA TANGGAL 23 Mei 1965, Stadion Gelora Bung Karno dibanjiri manusia. Puluhan ribu orang memadati tribun yang mengelilingi stadion, sementara ribuan manusia lagi berdiri di lapangan yang terhampar di bawah. Di luar, di lapangan parkir dan jalan-jalan di sekitar lebih dari 100.000 orang saling berdesak-desakan. Sungguh-sungguh seperti lautan manusia. Itulah peristiwa peringatan ulang tahun ke-45 berdirinya PKI.

Perayaan-Milad-PKI-yang-ke-4

Gambar 2. Perayaan Milad PKI yang ke 45 di Jakarta pada awal tahun 1965

Untuk memberi kesempatan lebih banyak orang berkumpul di sekitar stadion dan mencegah kemacetan lalulintas, partai menghalangi niat pengendara mobil lewat kawasan itu. Dengan membawa bingkisan kecil makanan dari rumah untuk makan siang, orang berjalan kaki masuk kota dari desa-desa yang jauh. Bendera-bendera merah dan baliho-baliho raksasa dengan potret-potret pahlawan partai, seperti Karl Marx dan V.I. Lenin, berderet di jalan-jalan ibukota. Mereka yang berbaris memasuki stadion dalam wacana popular mendapat julukan ‘semut merah’: banyaknya tak terbilang, tertib, disiplin, siap mengorbankan diri tapi militan, dan sanggup menyengat jika diganggu. Prajurit semut merah ini, di mata Soekarno, merupakan pemandangan kejayaan yang megah. Ia menyambut acara itu dengan bahagia dan menyampaikan pidato berapi-api dari podium, penuh pujian terhadap patriotisme dan semangat perjuangannya melawan kekuatan kolonialisme dan neokolonialisme dunia. PKI dengan caranya telah menunjukkan apa yang sudah menjadi dugaan banyak orang di Indonesia, bahwa partai ini merupakan partai politik yang paling besar dan paling terorganisasi dengan baik di Indonesia. Tidak ada partai politik lain yang bisa berharap untuk mengorganisasi rapat raksasa sebesar itu. Tampaknya perayaan peringatan itu merupakan yang paling mewah yang pernah diselenggarakan partai politik di sini. PKI memiliki kombinasi yang langka antara kecukupan dana, keanggotaan yang luas, dan dukungan presiden.”
Url: http://indoprogress.com/2011/12/partai-komunis-indonesia/

Kemajuan Pesat PKI

Kendati dilakukan serangan antikomunis Sukiman pada Agustus 1952, PKI dengan strategi barunya pada Mei 1952, berhasil membuat partai itu dapat diterima, bahkan terdapat kaum komunis di antara tokoh-tokoh penyelenggaraan dalam peringatan nasional kemerdekaan 17 Agustus.

Dengan dukungan kritis PKI terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh kaum nasionalis dan Soekarno, kaum komunis mendapatkan hak perlindungan fisik maupun ideologi. Kendati PSI dan Masyumi berusaha menyebarkan isu Perang Dingin, dengan harapan dapat mempersatukan semua kekuatan antikomunis. Tetapi PKI tidak tersentuh berkat popularitas Soekarno, Soekarno bertindak sebagai kaum nasionalis siap bekerjasama dengan seluruh patriot, terlepas apakah mereka religius atau tidak, dan berhasil membuat orang banyak mendengarkan dirinya, dan bukan pihak lain, pun ketika dirinya bicara tentang PKI. Perlindungan yang diberikan Soekarno kepada PKI, misalnya, Soekarno menjadikan PKI dapat mengadakan kongresnya yang keenam 1959 meskipun ditentang militer. Dengan demikian jelas sekali bahwa setidaknya sebagian kaum nasionalis memerlukan dukungan PKI. Artinya mereka membutuhkan sejenis demokrasi yang juga memungkinkan PKI tetap eksis dan menawarkan dukungannya.

Kemudian PKI dan organisasi massa lebih termobilisasi dan terorganisasi daripada sebelumnya. Berbagai upaya dilakukan oleh organisasi massa serta pendidikan terhadap para anggota. Pada tahun 1954, PKI menyebut-nyebut satu juta anggota. Tiga tahun kemudian angka itu menjadi satu setengah juta dan lebih dari setengahnya merupakan anggota penuh. PKI kini menyatakan sebagian besar anggota terdiri dari kaum tani. Pada pertengahan kedua 1962, jumlah anggota melonjak menembus angka dua juta. Tidak terbantahkan PKI merupakan partai komunis terbesar di luar Blok Timur,

Hasil Pemilu 1955 juga terhitung luarbiasa, PKI menjadi partai terbesar keempat dengan perolehan suara sebesar 16,4%. Seperti halnya PNI dan NU, PKI memiliki basis terkuat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan di Jawa Barat, Jakarta dan sebagian, PKI menjadi salahsatu partai terbesar. Tetapi secara umum, di luar Jawa tidak banyak memperoleh dukungan bagi PKI. PKI mendapatkan suara tambahan dalam pemilihan daerah pada 1957 dan 1958, dan menjadi partai terbesar di Jawa, mungkin di Indonesia.”

“…Dalam pidato Soekarno pada hari kemerdekaan 17 Agustus 1959, PKI memperoleh lebih banyak lagi keuntungan. Pidato tersebut menjadi dasar disusunnya manifesto politik (Manipol) yang memberikan garis-garis besar revolusi Indonesia dalam nuansa lebih radikal. Tujuan revolusi disebutkan untuk membangun sosialisme. Sementara itu demokrasi nasional harus dicapai melalui perjuangan menentang imperialisme dan feodalisme.

Lebih lanjut Soekarno tidak hanya bicara tentang pemerintahan koalisi atau kabinet gotong royong, tetapi menyatakan kerjasama Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) harus menjadi penanda khusus pemerintahan dan aparatur negara. Dengan demikian seluruh wilayah negeri ini akan mengambil manfaat dari persatuan antara kaum nasionalis, agama dan komunis.

Soekarno tetap dalam posisi dominan. Dengan perlindungan Soekarno dan kaum nasionalis, PKI berhasil melakukan mobilisasi dan mengorganisasi setidaknya delapan juta orang. Sementara para pemimpin PNI dan NU menjadi kian tergantung pada kemauan baik Soekarno. PKI berhasil mengorganisasi basis massanya sendiri. Soekarno yang populis memerlukan basis massa itu, terutama ketika kaum pemberontak dan kemudian AD menghunus pedangnya.”

Strategi & Provokasi PKI

Aidit sangat terkesan dengan perjuangan PKCina di bawah pimpinan Mao Tse Tung, karena itulah hampir semua buku-buku Bapak Revolusi Cina ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bahkan ada yang diterjemahkan ke bahasa Sunda. Hal ini supaya para petani di desa melek ideologi serta metode perjuangan, Mao dikenal dengan strateginya: Desa mengepung kota. Namun sampai akhir petualangan Aidit di tahun 1965, dia belum yakin dengan peran kaum tani dalam revolusi. Karena itu, dipilih cara kudeta untuk merebut kekuasaan negera yang sah.

Petani telah diprovokasi Aidit dalam perjuangan untuk mendapatkan tanah. Karena itu PKI sangat getol memperjuangan Landreform, yang kemudian lahirlah UU Pokok Agraria pada tahun 1960. Radikalisme petani terus digosok, sehingga puncaknya terjadi dalam aksi sepihak. Para petani di desa melakukan penyerobotan tanah milik para tuan tanah dan petani kaya. Imbalan tanah adalah iming-iming yang diberikan PKI bagi perjuangan para petani, seperti Barisan Tani Indonesia dalam semua aksi sepihak mereka. Daerah Klaten Jawa Tengah dijadikan pilot proyek, sehingga banyak terjadi korban di kedua belah pihak.

“Strategi kaum komunis waktu itu adalah “berbicara kepada orang lewat perutnya, bukan lewat otaknya”, maksudnya berbicaralah kepada orang-orang lewat kebutuhan pokoknya (terutama makan), barulah mereka akan mudah diajak bicara tentang ideologi. Pada waktu itu tingkat kemiskinan orang Indonesia memang sangat tinggi, sehingga program utama pemerintah adalah Sandang-Pangan-Papan.
PKI selalu melakukan propaganda kepada rakyat yang miskin itu hidup sama rata, sama rasa. Para provokator itu mengatakan bahwa kalau rakyat diperintah oleh PKI, maka tidak akan ada rakyat miskin dan rakyat kaya, semua sama saja: sama rata, sama rasa. Karena harapan komunis itu belum tercapai maka para juru propaganda itu memprovokasi orang-orang PKI untuk menjarah tanah atau hak milik orang kaya. Inilah yang disebut aksi sepihak PKI di berbagai kota di Indonesia.

Dari tahun 1963, kepemimpinan PKI makin lama makin berusaha memprovokasi bentrokan-bentrokan antara aktivis massanya dengan polisi dan militer. Pemimpin-pemimpin PKI juga menginfiltrasi polisi dan tentara dengan slogan “kepentingan bersama” polisi dan “rakyat”. Pemimpin PKI DN Aidit mengilhami slogan “Untuk Ketentraman Umum Bantu Polisi”. Di bulan Agustus 1964, Aidit menganjurkan semua anggota PKI membersihkan diri dari “sikap-sikap sektarian” kepada angkatan bersenjata, mengimbau semua pengarang dan seniman sayap-kiri untuk membuat “massa tentara” subjek karya-karya mereka.

Di akhir 1964 dan permulaan 1965 ribuan petani bergerak merampas tanah yang bukan hak mereka atas hasutan PKI. Bentrokan-bentrokan besar terjadi antara mereka dengan polisi dan para pemilik tanah.

Bentrokan-bentrokan tersebut dipicu oleh propaganda PKI yang menyatakan bahwa petani berhak atas setiap tanah, tidak peduli tanah siapapun (milik negara = milik bersama). Kemungkinan besar PKI meniru revolusi Bolsevik di Rusia, di mana di sana rakyat dan partai komunis menyita milik Tsar dan membagi-bagikannya kepada rakyat.

Pada permulaan 1965, para buruh mulai menyita perusahaan-perusahaan karet dan minyak milik Amerika Serikat. Kepemimpinan PKI menjawab ini dengan memasuki pemerintahan dengan resmi. Pada waktu yang sama, jenderal-jenderal militer tingkat tinggi juga menjadi anggota kabinet. Jenderal-jenderal tersebut masuk kabinet karena jabatannya di militer oleh Sukarno disamakan dengan setingkat mentri. Hal ini dapat dibuktikan dengan nama jabatannya (Menpangab, Menpangad, dan lain-lain).

Kembali ke masalah ateis, kecenderungan PKI untuk berpaham ateis, ternyata sudah dari asalnya, yaitu dari mbah buyutnya, Karl Marx, pencetus paham komunisme. Marx berkata: “Agama adalah kekacauan yang menghadapi jalan buntu dalam kesukaran dan kemiskinan hidup. Agama adalah candu bagi rakyat.” Lenin, pemimpin Partai Komunis Rusia, membeo Marx, “Opium delja Naroda”.
Paham anti-Tuhan Karl Marx diikuti oleh filsof keblinger lainnya, seperti Bebel yang dalam bukunya, ‘Die Frau’ mengatakan, “Bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan dalam otaknya sendiri.”

Semboyan-komunis-agama-adala

Gambar 3. Semboyan komunis, agama adalah candu

Pemberontakan PKI 1948 Madiun

Membahas pemberontakan PKI 1965 tak lepas dari kisah pemberontakan PKI 17 tahun sebelumnya, 1948. Tokoh-tokoh PKI yang lolos dari operasi penumpasan pada pemberontakan 1948 ini pada akhirnya muncul kembali sebagai tokoh-tokoh kunci pemberontakan 1965, semisal Aidit.

Aidit sendiri yang di masa kecil menjadi tukang azan di kampungnya pindah ke Yogya, lalu pindah lagi ke Solo berguru kepada Alimin (1889-1964), The Old Man of PKI, tokoh PKI ‘awallun’. Di Solo karirnya moncer sekaligus mendapat istri, (dr) Soetanti, anak Wakil Ketua Gerwani. Tahun 1948, menjadi pengurus partai bidang urusan agraria.

Peristiwa Madiun adalah sebuah konflik kekerasan atau situasi chaos yang terjadi di Jawa Timur bulan September – Desember 1948. Peristiwa ini diawali dengan diproklamasikannya negara Soviet Republik Indonesia pada tanggal 18 September 1948 di Madiun oleh Muso, seorang tokoh Partai Komunis Indonesia dengan didukung pula oleh Menteri Pertahanan saat itu, Amir Sjarifuddin.

Peristiwa-pemberontakan-PKI-

Gambar 4. Peristiwa pemberontakan PKI di Madiun.

Pada bulan Mei 1948 Wakil Indonesia di Praha, Musso, kembali dari Moskow, Rusia. Tanggal 11 Agustus, Musso tiba di Yogyakarta dan segera menempati kembali posisi di pimpinan Partai Komunis Indonesia. Banyak politisi sosialis dan komandan pasukan bergabung dengan Musso, antara lain Mr. Amir Sjarifuddin Harahap, dr. Setiajid dll.

Rapat-rapat-umum-diselenggar

Gambar 5. Rapat-rapat umum diselenggarakan oleh PKI dengan Muso sebagai pembicara

Tanggal 1 September 1948 diumumkan susunan Politbiro CC PKI yang baru. Susunan lengkapnya sendiri sebagai berikut:
Sekretariat Umum: Musso, Maruto Darusman, Tan Ling Djie, Ngadiman;
Departemen Buruh: Harjono, Setiadjit, Djokosudjono, Abdul Madjib, Achmad Sumadi,
Departemen Tani: A.Tjokronegoro, ?D.N.Aidit, Sutrisno;
Departemen Pemuda: Wikana dan Suripno,
Departemen Wanita: sementara dipegang oleh Sekretariat Umum;
Departemen Pertahanan: Amir Sjarifoeddin,
Departemen Agitasi dan Propaganda: Alimin, Lukman dan Sardjono;
Departemen Organisasi: Sudisman; ⏪?
Departemen Luarnegeri: Suripno;
Departemen Perwakilan: Njoto;
Departemen Daerah-Daerah Pendudukan: dipegang oleh Sekretariat Umum;
Departemen Kader-Kader Partai: sementara dipegang oleh Sekretariat Umum;
Departemen Keuangan: Ruskak.

“Partai Komunis Indonesia (PKI) memimpin apa yang dinamakan sebagai upaya-upaya untuk menyelamatkan Republik Indonesia dari “unsur-unsur fasis militeristik dan kolaborator Jepang Sukarno-Hatta”.

Penyelamatan tersebut diwujudkan dengan “meniadakan” Republik Indonesia dan menggantinya dengan suatu bentuk pemerintah kreasi Muso yang disebut Front Nasional/Front Demokrasi Rakyat di Madiun.

Selain PKI, FN/FDR berisi Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Partai Buruh, Partai Sosialis, Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), unsur-unsur tentara dari Divisi Panembahan Senopati dan beberapa pejabat lokal di Madiun.

Pada 19 September 1948 malam, Presiden Soekarno dalam pidato yang disiarkan melalui radio menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, untuk memilih: Musso-Amir Syarifuddin atau Soekarno-Hatta. Sukarno menyatakan kekecewaan sekaligis kemarahannya dan menilai kubu FN/FDR sebagai penggunting dalam lipatan. Lantas ia berkata:

“Atas nama perjuangan untuk Indonesia Merdeka, aku berseru kepadamu:…Ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membangkrutkan cita-cita Indonesia Merdeka atau ikut Sukarno-Hatta yang Insha Allah dengan bantuan Tuhan, akan memimpin negara Republik Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apapun juga!”

Sesungguhnya, Muso sendiri saat itu sedang di luar kota Madiun dan tidak terlibat dalam pembentukan Pemerintah FN/FDR. Namun pada 19 September ia menghadapi kenyataan pemerintah yang didirikan atas konsep pemikirannya itu telah dibentuk. “Senang atau tidak senang, ia harus menghadapinya…”tulis Soe Hok Gie.

Muso lantas mulai memainkan bidaknya. Di depan corong Radio Gelora Pemuda Madiun, ia membalas ultimatum Sukarno dengan pidato yang tak kalah berapi-api:

“Sudah tiga tahun revolusi nasional kita berjalan di bawah pimpinan kaum borjuis nasional, yang bersifat goyang menghadapi imperialis umumnya dan terhadap Amerika khususnya…Sebaliknya anasir-anasir pemerintah telah memakai revolusi kita sebagai kuda-kudaan untuk menguntungkan diri. Mereka sewaktu pendudukan Jepang telah menjadi quisling budak-budak Jepang, tukang jual romusha dan propagandis-propagandis Heiho…Sukarno memakai alasan-alasan palsu telah menuduh FDR dan PKI Musso sebagai tukang pengacau dan lain-lain. Lupakan Sukarno!…Rakyat seharusnya menjawab: Sukarno-Hatta, budak-budak Jepang dan Amerika. Memang cirri wanci lali ginowo mati. Pasti rakyat akan menjawab: Musso selamanya menghamba rakyat Indonesia, Hidup, merdeka dan menang perang!”

Aksi saling menculik dan membunuh mulai terjadi, dan masing-masing pihak menyatakan, bahwa pihak lainlah yang memulai. Banyak perwira TNI, perwira polisi, pemimpin agama, pondok pesantren di Madiun dan sekitarnya yang diculik dan dibunuh.

Soehodo-Algodjo-PKI-setelah-

Gambar 6. Soehodo, Algodjo PKI setelah ditangkap massa rakyat

Tanggal 10 September 1948, mobil Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo (RM Suryo) dan mobil 2 perwira polisi dicegat massa pengikut PKI di Ngawi. Ketiga orang tersebut dibunuh dan mayatnya dibuang di dalam hutan. Demikian juga dr. Muwardi dari golongan kiri, diculik dan dibunuh.

Kekuatan pasukan pendukung Musso digempur dari dua arah: Dari barat oleh pasukan Divisi II di bawah pimpinan Kolonel Gatot Subroto, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Wilayah II (Semarang-Surakarta) tanggal 15 September 1948, serta pasukan dari Divisi Siliwangi, sedangkan dari timur diserang oleh pasukan dari Divisi I, di bawah pimpinan Kolonel Sungkono, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, tanggal 19 September 1948, serta pasukan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, di bawah pimpinan M. Yasin.

Panglima Besar Sudirman menyampaikan kepada pemerintah, bahwa TNI dapat menumpas pasukan-pasukan pendukung Musso dalam waktu 2 minggu. Memang benar, kekuatan inti pasukan-pasukan pendukung Musso dapat dihancurkan dalam waktu singkat.

Tanggal 30 September 1948, kota Madiun dapat dikuasai seluruhnya. Pasukan Republik yang datang dari arah timur dan pasukan yang datang dari arah barat, bertemu di Hotel Merdeka di Madiun. Namun pimpinan kelompok kiri beserta beberapa pasukan pendukung mereka, lolos dan melarikan diri ke beberapa arah, sehingga tidak dapat segera ditangkap.
Url: http://koleksitempodoeloe.blogspot.co.id/2013/06/buku-langka-menjingkap-pembrontakan-pki.html

Akhir Oktober 1948. Pendirian Pemerintah FN/FDR berhasil digagalkan oleh tentara yang tetap setia kepada Sukarno-Hatta. Alih-alih mereorganisasi perlawanan , kekuatan sayap kiri yang dipimpin oleh Musso itu malah kocar-kacir. Untuk menghindari pengejaran tentara pemerintah, Musso sendiri memutuskan menghilang: meneruskan hari-harinya yang selalu penuh dengan warna “merah”. Dan untuk beberapa minggu upayanya itu berhasil: tentara pemerintah tak bisa mengendus keberadaan agen komunis internasional tersebut.

Hingga tibalah pada 31 Oktober 1948. Para petugas keamanan Desa Balong mencurigai seorang lelaki priyayi dalam penampilan sederhana tengah berjalan seorang diri. Ketika dihentikan, awalnya lelaki tersebut sangat kooperatif. Ia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kedua petugas tersebut dan memberikan selembar surat keterangan jalan. Namun ketika salah satu dari petugas itu merampas buntelan sarung yang ia bawa, tiba-tiba ia mengeluarkan sepucuk pistol dan langsung menembak sang perampas.

Usai menembak, ia lantas kabur dengan sepeda ontel milik salah seorang petugas desa itu. Di tengah jalan, ia bertemu dengan sebuah dokar dan di bawah ancaman pistol, kusir dokar tersebut dipaksa untuk membawanya dalam kecepatan tinggi. Dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia VIII, A.H. Nasution menceritakan tentara setempat kemudian cepat berkoordinasi menanggapi kejadian di Desa Balong itu.

Sementara itu di tengah perjalanan, dokar yang ditumpangi lelaki yang tak lain adalah Musso tersebut berpapasan dengan sebuah mobil yang ditumpangi oleh serombongan prajurit dari Batalion Sunandar. Begitu melihat mobil tersebut, dengan sigap, Musso meloncat dan langsung menodongkan senjatanya ke arah para penumpang.

Kendati para prajurit itu bersenjata, todongan senjata Musso lebih cepat. Terpaksalah mereka menuruti perintah Musso untuk meninggalkan mobil tersebut. Musso sendiri dengan cepat langsung duduk dibelakang kemudi. Namun dasar sial, ketika distater mobil itu tiba-tiba tak mau hidup. Melihat situasi tersebut salah satu dari prajurit itu lantas meraih sten gun di bagian belakang mobil dan langsung menodongkannya ke arah Musso.

“Keluar dari mobil dan menyerahlah!” teriaknya.

Musso dengan tenang keluar dari ruang kemudi. Dalam tatapan tajam bak singa siap bertarung, ia justru membalas teriakan sang prajurit dengan kata-kata yang pelan namun tegas: “Engkau tahu siapa saya?! Saya Musso! Engkau baru kemarin jadi prajurit dan sekarang berani-beraninya meminta saya untuk menyerah pada engkau?! Tidak! Saya tidak akan menyerah! Lebih baik mati daripada menyerah! Walau bagaimanapun saya tetap merah putih!”

Menyaksikan sikap Musso yang sangat percaya diri dan berwibawa, para prajurit itu menjadi keder. Alih-alih memberondong tubuh Musso dengan sten, mereka justru melarikan diri menuju desa terdekat. Beberapa saat kemudian, perburuan pun dimulai. Musso yang melarikan diri ke sebuah kampung kemudian memilih sebuah kamar mandi untuk tempatnya bertahan sekaligus bersembunyi.

Kapten Sumadi yang memimpin perburuan itu, lantas mengepung tempat tersebut dan meneriakan kata-kata agar Musso menyerahkan diri. Alih-alih menyerah, kata-kata Sumadi malah dijawab Musso dengan tembakan. Maka tanpa ampun para prajurit itu kemudian memberondong kamar mandi tersebut dan usai menghentikan tembakan beberapa menit kemudian, mereka menemukan tubuh sang pemimpin pemberontakan itu tengah terkapar dalam genangan darah. Musso kemudian diberitakan tewas. ..
Url: http://arsipindonesia.com/hikayat-nusantara/orde-baru/hari-hari-merah/

Barulah pada akhir bulan November 1948 seluruh pimpinan dan pasukan pendukung Musso tewas atau dapat ditangkap. Sebelas pimpinan kelompok kiri, termasuk Mr. Amir Syarifuddin Harahap, mantan Perdana Menteri RI, dieksekusi pada 20 Desember 1948, atas perintah Kol. Gatot Subroto.

Ketika terjadi pembersihan yang dilakukan Kabinet Hatta pada semua tokoh-tokoh penting PKI akibat peristiwa Madiun 1948, 9 orang dari total 21 orang anggota CC PKI terbunuh. Sudisman, Aidit bersama Lukman dan Nyoto berhasil lolos dari pembunuhan. Aidit sempat terkena razia, ditangkap tentara. Namun kemudian dapat melarikan diri dan menyembunyikan diri di Jakarta. Pemerintahan Sukarno sudah “lupa” dengan status buronannya sebagai pemberontak PKI yang kemudian komunis malah dilegalkan dan tumbuh pesat berkembang dibawah ideologi NASAKOM Sukarno.

Manuver Aidit & PKI Seputar Peristiwa Gerakan Pemberontakan PKI 1965

Kemunculan Aidit dkk dalam membangun kembali partai yang hancur setelah Peristiwa Madiun 1948, merupakan suatu fenomenal. Sebab dalam tiga tahun, dia bersama kaum komunis muda berhasil menegakkan bendera palu arit di Jakarta, dan kemudian menjalar ke seluruh negeri. Hal ini tidak lepas dengan banyak peristiwa politik yang mengaduk negeri, sehingga pemerintah lebih fokus untuk menegakkan republik, daripada mengurus ‘anak-anak durhaka’.

Mengkaji peran Aidit dan Aiditisme, akhirnya mengkaji juga PKI. Sebab Aidit hampir identik dengan PKI. Pikiran dan tindakannya, meski harus melalui rapat partai, tetapi sangatlah mewarnai perjalanan PKI sejak 1950. Aidit melakukan reformasi di dalam partai, dan karena itu pengurus lama PKI dipinggirkan, seperti Alimin, Wikana dan lainnya. Dan partai menampung orang baru yang relatif lebih bersih dari masa lalu (Pemberontakan PKI 1926 dan Pemberontakan 1948), seperti MH Lukman, Nyoto, Sudisman, Sakirman, dan lainnya. Aidit membawa partai lebih luwes, yaitu membentuk front persatuan nasional, dan mengikuti sistem parlementer, daripada pendapat kelompok garis yang menghendaki perjuangan lewat senjata.

Dalam Pemilu 1955, PKI menjadi 4 besar partai yang mengikuti Pemilu, dengan perolehan 6,1 7 juta suara (16%), dengan 39 kursi. Suara PKI lebih besar lagi di DPRD, bahkan PKI mayoritas di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Pada 1965, jumlah anggota PKI sudah 3 juta orang. PKI diuntungkan karena mendapat perlindungan Presiden Sukarno. Namun PKI tidak diberikan bagian kekuasaan di Kabinet yang langsung membawahi Departemen Teknis.

Selain PKI berdamai dengan sistem Parlementer, Aidit juga mengembangkan doktrin “MKTB” (Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan). Yaitu:
1⃣ Perjuangan gerilya bersenjata di desa terutama terdiri dari buruh tani dan tani miskin.
2⃣ Aksi-aksi revolusioner oleh kaum buruh di kota-kota.
3⃣ Pekerjaan intensif di kalangan kekuatan bersenjata (ABRI). MKTB adalah gerakan di bawah tanah yang diserahkan kepada Biro Khusus. Lembaga inilah yang kemudian bersama Aidit merencanakan G-30-S/PKI.

Selama tiga tahun, Aidit dan kawan-kawan, seperti MH Lukman (1920-1966), Nyoto (1925-1965), dan Ir Sakirman berhasil membangun kembali PKI. Dia menjadi Ketua Politbiro Politik PKI, kemudian menjadi Sekjen, selanjutnya bernama Ketua CC PKI. Pada Pemilu 1955, PKI mendapat 6,1 juta pemilih atau 16,4% suara, dan menjadi empat besar bersama PNI-Masyumi-NU. Bahkan menurut catatan terakhir, 1965, anggota PKI 3,5 juta, organisasi komunis terbesar ketiga setelah Uni Soviet dan Cina. PKI tumbuh bak raksasa.

Sampul-buku-Aidit-Hayo-Ringk

Gambar 7. Sampul buku Aidit, Hayo Ringkus dan Ganyang Kontra-Revolusi

Na’udzubillah, Indonesia Nyaris Menjadi Negara Komunis (Alhamdulillah Allah Ta’ala Selamatkan NKRI)

Berikut ini bukti arsip dokumenter yang menunjukkan bahwa hanya dalam tempo 17 tahun dari sejak dihancurkannya kekuatan PKI pada pemberontakan 1948 maka pada tahun 1965 dibawah naungan manhaj Nasakom Sukarno, PKI pada ulang tahun mereka yang diselenggarakan di Stadion Bung Karno Jakarta memamerkan diri kekuatan besarnya dan kedekatannya dengan Sukarno dan pembelaan serta perlindungan dan dukungan Sukarno terhadapnya:

https://youtu.be/i7v9gcOm1VM
Gambar 8. Ulang Tahun PKI ke-45 di Gelora Bung Karno Jakarta, 23 Mei 1965

Duet-Aidit-dan-Sukarno-pada-

Gambar 9. Duet Aidit dan Sukarno pada hari ulang tahun PKI di stadion Gelora Bung Karno Jakarta ditengah-tengah lautan massa PKI

Lihatlah bagaimana PKI telah memamerkan diri sebagai kekuatan komunis terbesar ke-3 di dunia setelah Uni Soviet dan Cina. Betapa bangganya mereka dibawah naungan Sukarno dan betapa bangganya Sukarno dengan kekuatan revolusioner PKI yang mendukungnya.
Memobilisasi para kader militan terlatihnya yang luarbiasa banyak ke ibukota, sungguh dokumenter penampakan Komunis Indonesia yang sangat mengerikan. Dan itulah alasan kenapa PKI sangat berhasrat untuk mengegolkan dipersenjatainya angkatan ke-5.

Nukilan:
“Pada kunjungan Menlu Subandrio ke Tiongkok, Perdana Menteri Zhou Enlai menjanjikan 100.000 pucuk senjata jenis chung, penawaran ini gratis tanpa syarat dan kemudian dilaporkan ke Bung Karno tetapi belum juga menetapkan waktunya sampai meletusnya G30S.

Pada awal tahun 1965 Bung Karno atas saran dari PKI akibat dari tawaran perdana mentri RRC, mempunyai ide tentang Angkatan Kelima yang berdiri sendiri terlepas dari ABRI. Tetapi petinggi Angkatan Darat tidak setuju dan hal ini lebih menimbulkan nuansa curiga-mencurigai antara militer dan PKI.”
Url: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gerakan_30_September

Pada masa Demokrasi terpimpin, Partai Komunis Indonesia merupakan partai besar Indonesia pasca Pemilu 1955, merupakan unsur dalam konsep Nasakom(Nasional, Agama dan Komunis). Dengan situasi politik yang penuh gejolak dan seruan revolusioner dari Presiden Soekarno serta banyaknya Konflik seperti Irian Barat (Trikora) dan Ganyang Malaysia (Dwikora) yang membutuhkan banyak sukarelawan-sukarelawan, PKI kemudian mengajukan usul kepada pemerintah/Presiden untuk membentuk angkatan kelima yang terdiri atas kaum buruh dan tani yang dipersenjatai.
Hal ini menimbulkan kegusaran di kalangan pimpinan militer khususnya Angkatan Darat. Khawatir unsur ini digunakan oleh PKI untuk merebut kekuasaan, meniru pengalaman dari revolusi baik dari Rusia maupun RRC. Oleh karena itu itu, pimpinan Angkatan Darat menolak usulan itu.

“…PKI sendiri melatih berbagai unsur-unsur ormasnya dalam bentuk latihan militer meski ada sebagian menyebutkan bahwa latihan yang diikuti unsur-unsur PKI sebenarnya adalah latihan resmi untuk sukarelawan baik dari kalangan Nasionalis maupun Agama. Namun berbagai kesaksian dari para tahanan politik menyebutkan bahwa latihan itu justru lebih banyak diikuti oleh unsur Komunis seperti Pemuda Rakyat dan Gerwani dibandingkan unsur-unsur lain. Sehingga banyak kesaksian dari para tahanan politik terutama mantan petinggi militer yang menjadi tahanan politik yang mengatakan bahwa banyak perwira-perwira menengah yang kemudian tersangkut dalam G30S yang dituduh melatih unsur unsur komunis mengatakan bahwa latihan itu adalah latihan sukarelawan untuk dwikora yang sifatnya resmi.

Dalam latihan bagi sukarelawan tersebut, para saksi terutama dari Angkatan Udara juga mengatakan keheranannya bahwa latihan ini mirip latihan tentara merah Tiongkok Komunis, terutama ketika defile baris-berbaris meski dijawab untuk sebagai unsur kepantasan (kegagahan) saja.”
Url: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Angkatan_Kelima

Dari film dokumenter hari ulang tahun PKI ke-45 dilaporkan ada seratus ribuan orang yang datang ke stadion Bung Karno pada 23 Mei 1965.

Berikut scan dokumen transkrip (MENGERIKAN) Isi Pidato Sukarno pada hari ulang tahun PKI tersebut yang dicetak dan dibukukan pada tahun yang sama, 1965.

?Ulang tahun PKI besar-besaran ini dilaksanakan dengan gegap gempita hanya berselang EMPAT BULAN SAJA sebelum PKI melancarkan gerakan kudeta G30S:

Gambar 10. Transkrip buku pidato Bung Karno pada hari ulang tahun PKI ke-45, 23 Mei 1965.
Url bukti: https://drive.google.com/file/d/0B5Si9pgUnW96b0ctOVR1SVRnSkU/view

Pada HUT PKI ke-45 ini Bung Karno mengatakan “Yo sanakku, yo kadangku. Yen PKI mati, aku melu kelangan (dia kerabatku dan juga sahabatku. Kalau PKI mati, aku akan merasa kehilangan),”

Empat bulan kemudian, tanggal 13 September, Presiden dengan senyum lebar bukan sekedar memeluk Aidit. Ketua Umum CC PKI diberi anugerah bintang kehormatan sangat prestisius, Mahaputra.

Nampak jelas bahwa ideologi NASAKOM (Nasonalis Agama Komunis) Sukarno benar-benar dimanfaatkan oleh PKI untuk menyusun, mengkader dan memobilisasi kekuatan militannya dengan legal dan aman.

Apa yang terjadi kemudian, dengan keberhasilan itu justru membuat Aidit menjadi keblinger. Setidaknya dia menjadi bimbang ketika beberapa dokter asal Cina yang memeriksa Presiden Soekarno mengatakan bahwa umur Soekarno tidak akan panjang lagi. Sebab Soekarno menjadi pelindung PKI, hampir semua haluan politik Soekarno menguntungkan PKI, seperti Nasakom dan pengganjangan Nekolim. Kalau Soekarno mati, PKI tidak memiliki patron lagi, maka PKI akan digilas oleh musuh bebuyutannya: TNI dan umat Islam.

PKI tak kunjung bisa mencapai revolusi sebagai janji-teoritis Marxisme-Leninisme untuk mencapai masyarakat tanpa kelas. Mengharap Pemilu tak kunjung datang, karena Soekarno ingin menguasai kekuasaannya hingga akhir hayat, “Pemimpin Seumur Hidup”. Dan kalaupun ikut Pemilu, PKI belum tentu menang. Sejarah membuktikan bawah partai komunis di manapun – kecuali Chili – tidak pernah menang Pemilu.

Yang lebih membuat Aidit stres, PKI tidak mempunyai tentara dan tidak bakal memiliki tentara sendiri, sebab akan langsung dipotong oleh TNI. Sedang kekuasaan itu muncul – sebagaimana dikatakan Mao Tse Tung – lahir dari ujung senapan. Maka dipilihnya cara makar/kudeta, yaitu dengan membunuh 6 jenderal dan 1 perwira TNI/AD dengan tuduhan Dewan Jenderal yang akan menggulingkan Soekarno.

PKI kemudian memberontak pada 30 September 1965 dengan segala prolog dan epilognya. Di berbagai daerah, umat Islam dibantai, bahkan PKI membantai umat Islam yang sedang shalat berjamaah. Ulama dan kiai dibunuh, puluhan pesantren dihancurkan. Beruntung pemberontakan G30S/PKI gagal, malah menjadi titik balik yang menghancurkan PKI dan underbow-nya dilarang di bumi NKRI.

Pakar politik Asia, Guy J Parker, dalam karyanya, The Rise and Fall of The Communist Party of Indonesia, mengupas kegagalan pemberontakan PKI 1965 sekaligus membuka tabir kebobrokan tokoh empat serangkai PKI (Aidit, Nyoto, Lukman, Sudisman) yang diagung-agungkan pengikutnya awal 1960-an. Bahkan, tokoh Lekra SW Kuntjahjo memuja Aidit dalam syairnya “mata Aidit seperti bulan”.

Kegagalan kudeta PKI 1965 tak hanya membongkar yang tersembunyi. Para pengikut dan simpatisan juga melihat kelemahan pemimpin mereka. Salah taktik, salah strategi, salah kalkulasi yang selama itu dianggap tak mungkin. Pascakudeta PKI yang gagal itu, para pengikut PKI saling khianat dan fitnah yang mempercepat kehancuran PKI, tak ada tempat lagi bagi PKI yang atesis hidup di bumi NKRI.

Tulisan Parker perkuat dokumen lain. Ketua Umum PKI Aidit sowan ke pemimpin Cina Mao Tse Tung beberapa bulan sebelum G30S/PKI meletus. Seperti ditulis pakar Asia Prof Victor Fie, pesan Mao pada Aidit agar bertindak cepat menghabisi jenderal pembangkang (AH Nasution, dll) harus dibunuh dalam Gestapu PKI 1965, tetapi justru Jenderal AH Nasution selamat.

Di buku itu, antara lain, memuat dialog antara Mao dan Aidit.

01.-Mao-Habisi-jenderal-jend

03.-Mao-Habisi-jenderal-jend

Gambar 11. Mao: “Habisi jenderal-jenderal reaksioner dalam satu kali pukul…; Aidit: “Berarti kami harus membunuh banyak jenderal?”; Mao: “Di Shensi Utara saya bunuh 20 ribu pembangkang dalam satu kali pukul.”

Mao: “Kamu harus bertindak cepat.”
Aidit: “Saya khawatir TNI AD jadi penghalang.”
Mao: “Habisi jenderal-jenderal reaksioner dalam satu kali pukul mereka akan menjadi seekor naga tanpa kepala yang tunduk pada perintahmu.”
Aidit: “Berarti kami harus membunuh banyak jenderal?”
Mao: “Di Shensi Utara saya bunuh 20 ribu pembangkang dalam satu kali pukul.” (Anatomi The Jakarta Coup, 1965, hal. 96).
Url: http://bit.ly/259nmUD

Anatomi-The-Jakarta-Coup

Gambar 12. Sampul buku Anatomi The Jakarta Coup

Namun apa yang terjadi? Dalam beberapa hari Pemberontakan/Pengkhiantan G-30-S/PKI terlibas kekuatan TNI/AD beserta rakyat. Semua rencana PKI berantakan, dan raksasa PKI itu bak balon yang kempes hanya dengan satu sundutan rokok saja. Kaki tangan PKI teramputasi di seluruh negeri. Sejarahwan asal Perancis, J. Leclerc, menyebutkan PKI sebagai raksasa berkaki lempung. Aidit lari ke Solo dan tertangkap pada 22 November 1965. Dan baru ditembak mati pada esok harinya, 23 November 1965 di Boyolali.

Di sisi lain, dialog Mao dengan Aidit tersebut menggambarkan hubungan erat antara PKI dengan Komunis RRC dan merupakan salah satu alasan kenapa etnis Cina juga menjadi sasaran dalam peristiwa penumpasan PKI.

Dalam fakta ini, masihkah terbersit di pikiran kita mau menghidupkan atau membiarkan PKI hidup walau dengan bentuk dan topeng lain? Masihkah terpikir kebebasan tanpa batas ala sekuler itu baik?

Termasuk bebas memutarbalikkan fakta sejarah G30S/PKI? Bahkan, anak cucu PKI (berani-beraninya,ed.) mengaku sebagai korban minta rekonsiliasi dan kompensasi?…”

Beberapa Peristiwa Penting Seputar Gerakan Pengkhianatan 30 September 1965 & Keluarnya Supersemar 1966

1⃣ Kejadian di bulan September
Pertengahan September 1965
Pertemuan langsung antara Soekarno dengan Nasution tatkala Presiden menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada Dipa Nusantara Aidit di Istana Negara.
Tak ada hal yang istimewa dalam pertemuan sepintas dalam keramaian suasana upacara kala itu, di antara keduanya, kendati saat itu dalam benak Soekarno nama Nasution pasti terekam dengan konotasi tertentu, karena nama Nasution tercatat dalam laporan sebagai salah satu anggota Dewan Jenderal. Soekarno bahkan meletakkan Nasution sebagai otak di belakang segala sesuatu yang terkait dengan Dewan Jenderal, meskipun setiap kali memerlukan penjelasan, Soekarno selalu memintanya kepada Yani. Peristiwa agak istimewa, justru terjadi antara Aidit dengan Nasution. Setelah selesai upacara, menurut memori Nasution, Aidit datang kepadanya dan menanyakan “Manakah dari pita-pita di dada Jenderal Nasution yang mengenai operasi Peristiwa Madiun 1948?”. Nasution menunjukkan pita itu dan Aidit segera menggandeng tangan Jenderal Nasution seraya meminta para wartawan mengambil gambar mereka berdua.

Soekarno, Aidit dan Jenderal Nasution.
Hanya beberapa hari sebelumnya, 13 September 1965, juga di istana, Presiden Soekarno menyerang Jenderal Nasution –meskipun tanpa menyebut nama. Dalam pembukaan pertemuan Gubernur se-Indonesia, Soekarno kembali mengulangi tentang adanya anak-anak revolusi yang tidak setia pada induknya, yakni sebarisan ‘jenderal brengsek’, yang semua orang tahu terutama ditujukan kepada Nasution. Ini bukan pertama kali dilontarkan Soekarno, terutama sejak ia menerima informasi-informasi tentang adanya Dewan Jenderal yang bermaksud menggulingkan dirinya. Pada waktu yang bersamaan para pemimpin PKI melontarkan pernyataan-pernyataan senada, sehingga tercipta opini bahwa Soekarno memang betul-betul telah seiring sejalan dengan PKI, sesuatu yang kelak harus ditebus Soekarno dengan mahal.

Praktis sepanjang September 1965, PKI menyerang secara agresif, lawan-lawan politiknya, terutama kelompok-kelompok tentara yang dikaitkan dengan Nasution. Seraya menggambarkan adanya kelompok jenderal yang tidak loyal kepada Soekarno, Harian Rakyat 4 September menulis bahwa para perwira tentara itu dalam pola maling teriak maling menuduh seakan-akan PKI mau melakukan kup.

Tetapi sementara itu, pada tanggal 9 September adalah Aidit sendiri yang menggambarkan akan terjadinya sesuatu dengan mengatakan, “Kita berjuang untuk sesuatu yang pasti akan lahir. Kita kaum revolusioner adalah bagaikan bidan daripada bayi masyarakat baru itu. Sang bayi pasti lahir dan kita kaum revolusioner menjaga supaya lahirnya baik dan sang bayi cepat jadi besar”.

Ucapan ini diperkuat Anwar Sanusi. Lima hari kemudian, 14 September, Aidit di depan sidang nasional Sobsi mengatakan bahwa “yang paling penting sekarang ini, bagaimana kita memotong penyakit kanker dalam masyarakat kita, yaitu setan kota. Kalau revolusi mau tumbuh dengan subur, kita harus menyingkirkan kaum dinasti ekonomi, kapbir dan setan kota dari segenap aparatur politik dan ekonomi negara”.

Di depan karyawan BNI, 17 September, Aidit mengatakan “Kabinet sekarang belum Nasakom, hanya mambu Nasakom”.

Lalu 21 September di depan Sarbupri, Aidit menyatakan “Jangan berjuang untuk satu ikan asin…. Jangan mau jadi landasan, jadilah palu godam”. Seraya menggambarkan bahwa para menteri hidup dari distribusi kewibawaan dari Bung Karno, ia sebaliknya melukiskan “kaum proletar tidak akan kehilangan sesuatu apa pun kecuali belenggu mereka”.

Paling agresif adalah ucapan-ucapan Aidit di depan Kongres III CGMI 29 September 1965, “Mahasiswa komunis harus berani berpikir dan berani berbuat. Berbuat, berbuat, berbuat. Bertindak dan berbuat dengan berani, berani. Sekali lagi berani”.

Pada acara itu Aidit melancarkan serangan khusus kepada HMI yang beberapa waktu sebelumnya sempat dibela oleh Ahmad Yani. Bahkan sebenarnya Aidit malam itu seakan ‘melawan’ Soekarno ketika ia menanggapi pidato Waperdam II Leimena. Sang Waperdam yang berbicara sebelum Aidit, malam itu mengatakan bahwa sesuai sikap Presiden Soekarno, hendaknya HMI tak perlu lagi dipersoalkan lebih lanjut. Menurut Leimena, bukankah beberapa hari sebelumnya, 22 September, Presiden telah menyatakan penolakannya terhadap tuntutan pembubaran HMI yang disampaikan kepadanya?

Namun Aidit yang berbicara kemudian, seakan mengolok-olok Leimena dan sekaligus dianggap ‘menantang’ Soekarno, mengatakan bahwa kalau CGMI tidak bisa melenyapkan HMI, sebaiknya mereka memakai sarung saja.

Soekarno yang sebenarnya merasa tersinggung, tetap mengendalikan diri dengan baik. Ia mengatakan HMI tak perlu dibubarkan. Namun, bilamana HMI “ternyata menyeleweng” dari garis revolusi, ia sendiri akan melarang dan membubarkan HMI.

Yang kemudian ikut memberatkan PKI di belakang hari adalah editorial Harian Rakyat pada tanggal 30 September, yang berbunyi, “Dengan menggaruk kekayaan negara, setan-setan kota ini mempunyai maksud-maksud politik yang jahat terhadap pemerintah dan revolusi. Mereka harus dijatuhi hukuman mati di muka umum. Soalnya tinggal pelaksanaan. Tuntutan adil rakyat pasti berhasil”.

Editorial ini seakan membayangkan suatu pengetahuan tentang rencana PKI berkaitan dengan kematian para jenderal melalui suatu hukuman mati oleh rakyat atau kekuatan revolusioner. Akumulasi pernyataan-pernyataan keras tokoh-tokoh PKI, terutama Aidit, serta apa yang hitam putih termuat dalam Harian Rakyat, di belakang hari ibarat mozaik yang setelah disusun menjadi sebuah gambar, telah mendorong munculnya opini kuat tentang keterlibatan dan peran PKI sebagai otak gerakan makar tanggal 30 September 1965.
Url: https://penasoekarno.wordpress.com/2010/09/13/bercak-darah-di-kaki-soekarno-1/

“Peristiwa 30 September 1965 dan konflik penuh kejahatan kemanusiaan yang mengikutinya, tak terlepas dari pola kepemimpinan Sukarno sendiri yang selama beberapa tahun terakhir menjalankan politik perimbangan kekuatan yang tidak sehat di antara unsur-unsur Nas, A dan Kom.
Pembelaannya yang berlebih-lebihan terhadap PKI setelah peristiwa, sementara tentang pembunuhan para jenderal ia hanya menganggapnya sebagai riak kecil di lautan, menimbulkan anggapan ia tidak adil dan berpihak. Apalagi, pada 1 Oktober ia justru memilih ke Halim Perdanakusuma: Bertemu Laksamana Udara Omar Dhani, Brigjen Soepardjo dan berkomunikasi dengan DN Aidit dari sana, sementara DN Aidit sendiri meninggalkan Jakarta menuju Jawa Tengah dengan pesawat AURI dari pangkalan itu. Ini semua adalah bibit awal dari akumulasi prasangka dan ketidakpercayaan.”
Url: https://socio-politica.com/2012/11/06/kisah-jenderal-sarwo-edhie-wibowo-dan-rpkad-1965-1966-5/

Nukilan-2-paragraf-penting-t

Gambar 13. Nukilan 2 paragraf penting transkrip buku pidato Bung Karno pada hari ulang tahun PKI ke-45, 23 Mei 1965, EMPAT BULAN SEBELUM PKI MELANCARKAN KUDETA G30S.

2⃣ Pasca peristiwa penculikan dan pembantaian para Jenderal TNI AD oleh PKI, pada tanggal 1 Oktober Sukarno dan Sekretaris Jendral PKI Aidit menanggapi pembentukan Dewan Revolusioner oleh para pemberontak dengan berpindah ke Pangkalan Angkatan Halim di Jakarta untuk mencari perlindungan.
Posisi tinggal Sukarno antara jam 9.00 pagi sampai jam 19.00 malam adalah di Halim Perdanakusumah, Sukarno tinggal, berdiskusi, memanggil anak buahnya, serta memerintahkan berada di rumah Komodor Susanto. Disini Suharto menolak pemanggilan Sukarno sekaligus secara implisit menganggap markas Halim baik langsung atau langsung mengetahui Gerakan Untung 1965 yang sudah resmi oleh Suharto dijadikan musuhnya ketika Suharto berkata setelah mendengar pidato Untung di RRI pada pukul 7.00 pagi : “Untung adalah PKI dan anak didik Alimin”.
?Url: http://www.kompasiana.com/anton_djakarta/perang-informasi-pada-30-september-1965_5517f39da333113107b662ef

3⃣ Operasi penumpasan G30 S/PKI dimulai sejak tanggal 1 Oktober 1965 itu pula.
Kekuatan G30S pimpinan Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa Letkol Untung Syamsuri hanya bertahan 24 jam. Mereka berhasil menghabisi para jenderal di Lubang Buaya pagi hari 1 Oktober 1965. Tapi gerakan itu tak berlanjut.
Salah satu pimpinan G30S Brigjen Soepardjo berusaha meminta restu Presiden Soekarno. Tapi Soekarno malah memberi perintah lain. “Stop. Hentikan semua gerakan!”
Mendengar jawaban Soekarno , lemaslah Soepardjo. Sebagai jenderal dengan jabatan Panglima Komando Tempur di Kalimantan, dia tahu pasukannya sudah kalah. Soepardjo tahu Letkol Untung tak punya rencana cadangan. Dukungan Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk bergerak pun nyaris tak ada.
Soepardjo juga menyayangkan Untung tak berbuat sesuatu saat musuh dalam kondisi bingung. Kala itu seharusnya Untung bisa melakukan tindakan, memukul satuan-satuan militer yang tak mendukung G30S, atau mengambil kendaraan lapis baja untuk memperkuat posisi mereka.

“Radio RRI yang kita kuasai juga tidak kita manfaatkan. Sepanjang hari hanya dipergunakan untuk membacakan pengumuman saja. Harusnya radio digunakan semaksimal mungkin oleh barisan agitasi propaganda,” kata Soepardjo seperti dikutip John Roosa dalam buku Dalih Pembunuhan Massal…

Kolonel Saelan marah sekali saat mendengar anak buahnya terlibat penculikan para jenderal. Dia terkejut Letkol Untung yang pendiam ternyata melakukan tindakan indisipliner. Saelan mengaku tak tahu menahu soal gerakan ini. Mereka yang terlibat hanya anak buah Untung langsung di Yon I Kawal Kehormatan.
“Saya marahi mereka. Saya tanya, apa-apaan ini? Kalian kenapa? Mereka jawab kami prajurit, kami menuruti perintah komandan batalyon,” beber Saelan menceritakan kejadian puluhan tahun lalu itu.
Resimen Tjakrabirawa kemudian menyerahkan para anggota yang terlibat pada Kostrad dan Polisi Militer.

Namun rupanya, pemimpin mereka Lettu Dul Arief tak ada dalam rombongan itu. Dul Arief memisahkan diri menjelang Cirebon. Dia terus bergerak ke arah Timur. Nasibnya nahas, perwira pertama ini ditembak di Cilacap.

Sementara itu Brigjen Soepardjo baru bisa ditangkap 12 Januari 1967. Perwira tinggi G30S ini diadili dan kemudian divonis mati. Dengan pakaian serba putih, Soepardjo menempuh ajalnya di depan regu tembak.

Dalam jamuan makan terakhirnya, Jenderal Pardjo mengucapkan pidato singkat di depan para tahanan politik lain. “Kita sama-sama pendukung revolusi Indonesia, hanya sudut pandangnya berbeda-beda. Kalau saya malam nanti menemui ajal, ajal saudara tidak diketahui kapan. Itu saja perbedaan saya dengan kalian…”
Url: http://m.merdeka.com/peristiwa/g30s-gagal-untung-ditangkap-letnan-dul-arief-ditembak-mati.html

4⃣ Gedung RRI pusat dan Kantor Pusat Telekomunikasi dapat direbut kembali tanpa pertumpahan darah oleh Sarwo Edhi Wibowo. Selanjutnya tanggal 2 Oktober 1965, Halim Perdana Kusuma diserang oleh satuan RPKAD dibawah komando Kolonel Sarwo Edhi Wibowo atas perintah Mayjen Soeharto. Pada pukul 12.00 siang, seluruh tempat itu berhasil dikuasai oleh TNI-AD. Operasi penumpasan pemberontakan PKI juga dilakukan di berbagai daerah oleh militer bekerjasama dengan rakyat.

5⃣ Harian Rakjat secara mengejutkan pada edisi 2 Oktober 1965 menjadi satu-satunya koran yang terang-terangan mendukung Gerakan Untung 1965.
Harian Rakyat didirikan oleh Wakil Ketua II Central Committee PKI Nyoto. Ia juga bertindak sebagai pimpinan redaksi. Berkantor di Jalan Pintu Besar Nomor 93, Jakarta, Harian Rakyat menjadi andalan bagi PKI menyerang musuh-musuh politik lewat kata demi kata, kalimat demi kalimat.
Harian Rakyat menjadi koran politik terbesar dalam kurun waktu 1951-1965. Bahkan oplahnya pernah mencapai 100 ribu sewaktu tahun 1958.

Karikatur-Koran-PKI-Harian-R

Gambar 14. Karikatur Koran PKI Harian Rakyat dukung G30S, Umumkan keberadaan Dewan Revolusi dan pasukan Tjakrabirawa Selamatkan Presiden (dengan membabat Dewan Jenderal)

Nampak sebuah karikatur pada edisi Sabtu, 2 Oktober 1965 itu, Harian Rakyat memuat seorang yang digambarkan sebagai seorang jenderal, yang dibelakangnya ada wajah ‘bule’ memakai topi ‘bendera Amerika’. Sang jenderal memakai seragam dengan kepangkatan bergambar ikon dolar Amerika, dan tertempel juga tulisan ‘Dewan Djendral’ di lengan bajunya, serta bintang berjumlah 4 yang menguap dari ikon dolar tadi.
Sementara seorang pria yang digambarkan sebagai agen Amerika tersebut, menyodok sang jenderal dari belakang. Di depan sang jenderal terdapat tulisan RI, sebuah arah dia berada di sisi Republik Indonesia.
Tapi, saat hendak merapat itu, sang jenderal dihadiah bogem mentah dari orang yang disebut Letkol Untung. Pada lengan Untung yang sedang meninju sang jenderal, bertuliskan Gerakan 30 September. Bogem yang mendarat persis di mata kanan sang jenderal, mengakibatkan sang jenderal terlempar, dan topi yang dikenakan juga terlepas. Dalam topi juga dituliskan CIA, agen rahasia Amerika.
Singkat kisah, karikatur tersebut menggambarkan ketidaktahuan Harian Rakyat kegagalan kudeta 30 S PKI.

Berikut isi editorialnya pada tanggal 2 Oktober 1965

Nukilan:
“GERAKAN 30 SEPTEMBER
Tepat tanggal 30 September telah dilakukan tindakan penjelamatan terhadap diri Presiden Sukarno dan RI dari kup apa jang dinamakan Dewan Djendral. Menurut apa jang diumumkan oleh Gerakan 30 September jang dikepalai oleh Letkol. Untung dari Bataljon Tjakrabirawa penjelamatan diri Presiden Sukarno dan RI dari kup Dewan Djendral adalah tindakan jang patriotik dan revolusioner.

Harian-Rakyat-edisi-2-Oktobe

Gambar 15. Harian Rakyat edisi 2 Oktober 1965 ,dukungan terhadap Gerakan 30 September

Betapapun dalih jang digunakan oleh Dewan Djendral dalamusahanja melakukan kup adalah tindakan jang terkutuk dan kontrarevolusioner.

Kita Rakjat memahami betul apa jang dikemukakan oleh Letkol. Untung dalam melakukan gerakannja jang patriotik itu.

Tetapi bagaimanapun djuga persoalan tsb. adalah persoalanintern AD. Tetapi kita Rakjat jang sedar akan politik dan tugas2 revolusi mejakini akan benarnja tindakan jang dilakukan oleh Gerakan 30 September untuk menjelamatkan revolusi dan Rakjat.

Dukungan dan hati Rakjat sudah pasti dipihak Gerakan 30 September. Kita serukan kepada seluruh Rakjat untuk mempertadjam kewaspadaan dan siap menghadapi segala kemungkinan.” –selesai penukilan
Url: https://sejarahkritis.wordpress.com/2012/05/28/editorial-harian-rakjat-2-oktober1965/

6⃣ Pada tanggal 3 Oktober 1965 yang bertepatan pada hari minggu, pasukan RPKAD oleh Mayor C.I Santoso berhasil menguasai daerah Lubang Buaya. Setelah upaya pencarian perwira TNI-AD dipergiat dan atas petunjuk Kopral Satu Polisi Sukirman yang menjadi tawanan G30 S/PKI, tetapi berhasil melarikan diri didapat keterangan bahwa perwira TNI-AD dibawa ke Lubang Buaya.
Pada tanggal 3 Oktober 1965 ditemukan tempat para perwira yang diculik dan dibunuh tersebut. Mayat perwira tersebut dimasukkan dalam sebuah sumur yang bergaris tengah ¾ meter dengan kedalaman kira-kira 12 meter, yang kemudian dikenal dengan nama Sumur Lubang Buaya.

7⃣ Pada Tanggal 4 Oktober, penggalian sumur Lubang Buaya dilanjutkan kembali yang diteruskan oleh pasukan Para Amfibi KKO-AL dengan disaksikan pemimpin sementara TNI-AD Mayjen Soeharto. Jenazah para perwira setelah diangkat dari sumur tua terlihat ada kerusakan fisik yang sedemikian rupa. Hal inilah yang menjadi saksi bisu bagi bangsa Indonesia betapa kejamnya siksaan yang mereka alami sebelum wafat.

8⃣ Tanggal 5 Oktober 1965, jenazah para perwira TNI-AD tersebut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata yang sebelumnya disemayamkan di MArkas Besar Angkatan Darat.

9⃣ Tanggal 6 Oktober 1965, dengan surat keputusan pemerintah yang diambil dalam sidang Kabinet Dwikora, para perwira TNI-AD tersebut ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi.

Gambar 16. Beberapa detail kejadian pasca pemberontakan PKI 1965. Terbunuhnya para Jenderal TNI AD adalah riak kecil di lautan (??????!!!)

Selengkapnya:
http://tinyurl.com/hkr2pw8

Pada tanggal 6 Oktober Sukarno menghimbau rakyat untuk menciptakan “persatuan nasional”, yaitu persatuan antara angkatan bersenjata dan para korbannya dan penghentian kekerasan. Biro Politik dari Komite Sentral PKI segera menganjurkan semua anggota dan organisasi-organisasi massa untuk mendukung “pemimpin revolusi Indonesia” dan tidak melawan angkatan bersenjata. Pernyataan ini dicetak ulang dikoran CPA bernama “Tribune”.

1⃣1⃣ Secara rahasia, beberapa pentolan PKI juga mengadakan rapat yang membahas serangkaian peristiwa terakhir setelah serangkaian G30S PKI dan melakukan konsolidasi partai. tanggal 12 Oktober 1965, dirumah Dargo, tokoh PKI Solo, dilakukan rapat gelap antara D.N. Aidit, Pono dan Munir (anggota PKI yang baru tiba dari Jawa Timur).
Dalam rapat itu dikatakan bahwa kegagalan gerakan September akan membuka kedok keterlibatan PKI. Keberadaan PKI melakukan perjuangan secara parlementer sudah tidak mungkin dilakukan lagi. Munir melakukan usulan untuk dilakukan gerakan bersenjata, usulan Munir pada prinsipnya disetujui oleh peserta rapat. Aidit menugaskan Ponjo untuk meneliti daerah mana saja yang memungkinkan untuk dijadikan basis PKI guna melaksanakan perjuangan bersenjata, daerah yang diusulkan untuk ditinjau adalah Merapi, Merbabu serta Kabupaten Boyolali, Semarang dan Klaten.

Belum lagi kegiatan itu direalisasikan, gerakan pasukan RPKAD telah memasuki kota Solo. Walau PKI berusaha melawan, namun pada operasi pembersihan yang dilakukan RPKAD di Boyolali, DN. Aidit terbunuh. Kejadian demi kejadian berlangsung dengan amat cepat. Rakyat sudah tidak percaya lagi pada PKI. Rakyat bersama-sama dengan mahasiswa dan militer yang masih setia pada konstitusi negara merapatkan barisan dan bergabung dalam satu front melawan PKI.

1⃣2⃣ Pada tanggal 11 Oktober 1965 Letkol Untung tertangkap di Tegal. Menurut Letjen. A.J. Witono, orang yang paling berjasa dalam penangkapan ini adalah Kapten CPM. Moh. Isa, yang waktu itu menjabat sebagai Komandan Polisi Militer di Tegal. Setelah Untung tertangkap di Tegal, dialah yang melarikan dan menyerahkannya kepada kolonel Witono, yang saat itu menjabat Danrem di Cirebon….
Pertemuan antara Untung dengan Dan Rem Cirebon, Kolonel A.J. Witono. Pertemuan ini sangat menarik karena keduanya saling kenal.

Kepada Witono, Untung bertanya : Bagaimana Pak, jadi pergi ke Jakarta ?
Witono : Gila Lu, kalau jadi kan udah lu habisin !
(Untung tidak menjawab, hanya menundukkan kepala)
Witono : Terima kasih, dulu waktu kendaraan saya tabrakan di Semarang, telah kau tolong.
Untung : Bagaimana, radiatornya sudah baik ?
Witono : Sudahlah, kau belum makan sehari. Makanlah dulu.

Dialog itu ada latar belakangnya. Beberapa hari sebelum terjadinya usaha kudeta 30 September 1965, Kolonel A.J. Witono bertemu dengan Untung di Bandung, pada upacara penganugerahan Sam Karya Nugraha kepada Kodam VI Siliwangi.

Dalam pertemuan ini Kolonel Witono mengatakan kepada Untung, bahwa pada tanggal 1 Oktober ia akan ke Jakarta untuk mencari film yang akan diputar pada perayaan hari ABRI 5 Oktober. Sebagai reaksinya, Untung menawari Kol. Witono untuk menginap di mess “Cakrabirawa”.

Tetapi perjalanan ke Jakarta itu batal, meskipun Kolonel Witono sudah berangkat ke Bandung tanggal 30 September 1965. Soalnya ketika dari Bandung, Kol. Witono menilpun kepada perwira yang mengurus film di Jakarta, ia mengetahui bahwa orang yang bersangkutan tidak ada. Maka kembalilah Witono ke Cirebon. Dan dari siaran-siaran radio Jakarta, tahulah ia seketika, bahwa PKI-lah yang berperan dalam “Gerakan 30 September”.

Mengenai soal mobil yang juga disinggung dalam dialog, peristiwanya sudah terjadi kurang lebih dua tahun sebelumnya, ketika Untung masih bertugas di Semarang. Mobil Kolonel Witono yang ditumpangi saudaranya mendapat kecelakaan, sehingga tidak bisa jalan. Kebetulan peristiwa ini terjadi tidak jauh dari markas Untung. Dan dialah akhirnya yang memberikan bantuan…

Menurut keterangan Letjen Witono, Untung memang sudah lama berada dalam pembinaan PKI. Ketika peristiwa Madiun tahun 1948, Untung termasuk batalyon Sudigdo di Solo, dan Witono yang waktu itu masih menjadi komandan Kompi ikut menghadapinya.
Url: https://historytalkblog.wordpress.com/2014/04/03/kisah-tertangkapnya-letkol-untung/

1⃣3⃣ Tanggal 11 Maret 1966 Presiden menandatangani Supersemar yang berisi mandat kepada Jenderal Suharto untuk memulihkan keamanan negara dan melindungi keamanan Presiden. Ia memerintah Suharto untuk mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk mengembalikan ketenangan dan untuk melindungi keamanan pribadi dan wibawanya. Kekuatan tak terbatas ini digunakan oleh Jenderal Suharto untuk melarang PKI.

Pertemuan-para-petinggi-TNI-

Gambar 17. Pertemuan para petinggi TNI AD yang membawa mandat Supersemar dengan Jenderal Suharto

1⃣4⃣ Pada tanggal 12 Maret 1966 menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang dan membubarkan PKI termasuk ormas-ormasnya.

12-Maret-1966-Jenderal-Suhar

Gambar 18. 12 Maret 1966 Jenderal Suharto menandatangani keputusan pembubaran PKI

1⃣5⃣ Pada tanggal 18 Maret 1966 menahan 15 orang menteri yang diduga terlibat dalam G 30 S/PKI.

1⃣6⃣ Membersihkan MPRS dan DPR serta lembaga-lembaga negara lainnya dari pengaruh PKI dan unsur-unsur komunis.

Dalam melaksanakan langkah-langkah politiknya, Letjen Soeharto berlandaskan pada Supersemar. Agar dikemudian tidak menimbulkan masalah, maka Supersemar perlu diberi landasan hukum. Oleh karena itu pada tanggal 20 Juni 1966 MPRS mengadakan sidang umum.

Akhirnya legalisasi PKI sudak tidak mampu dipertahankan oleh pengikutnya. Lewat ketetapan MPRS-RI. NO.XXV/MPRS/1966, PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah negara Republik Indonesia. Bukan itu saja, lewat ketetapan yang sama, paham Komunis dan Marxis-Leninisme dinyatakan haram berada di negara Indonesia.

Berikut ini beberapa ketetapan penting MPRS hasil sidang umum tersebut.
1. Ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966, tentang Pengesahan dan Pengukuhan Supersemar.
2. Ketetapan MPRS No. XXV/MPRS/1966, tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), dan menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam sidang ini, MPRS juga menolak pidato pertanggungjawaban Presiden Soekarno yang berjudul “Nawaksara” (sembilan pasal), sebab pidato pertanggungjawaban Presiden Soekarno tidak menyinggung masalah PKI atau peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965.

1.-Akhir-kekuasaan-Sukarno-d

2.-Akhir-kekuasaan-Sukarno-d

Gambar 19. Akhir kekuasaan Sukarno dan naiknya Suharto sebagai Presiden

Indonesia juga membekukan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Cina (RRC).
Sikap politik Indonesia yang membekukan hubungan diplomatik dengan RRC disebabkan pada masa G 30 S/PKI, RRC membantu PKI dalam melaksanakan kudeta tersebut. RRC dianggap terlalu mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.

PKI-PUN MASIH TERUS MELOLONG DAN MENGHUJAT BANGSA INDONESIA SAKIT JIWA KARENA ADANYA TAP MPRS No.25/1966 YANG MELARANG PENYEBARAN AJARAN KOMUNISME/MARXISME-LENINISME

Nukilan:
“Jadi, jelaslah bahwa Ketetapan MPRS no 25/1966 tidak mendatangkan kebaikan apa pun bagi bangsa dan negara, melainkan hanya menguntungkan kepentingan musuh-musuh negara dan rakyat yang sebenarnya, yaitu kaum reaksioner pendukung setia Suharto, atau kekuatan pro neo-liberalisme baik yang di dalam negeri maupun yang datang dari luar negeri.

Oleh karena itu, adalah jelas sekali bahwa ?undang-undang yang merupakan noda besar dan sumber penyakit jiwa bangsa ini perlu sekali segera dicabut oleh MPR sendiri bersama pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya yang berkepentingan.? Penghapusan Ketetapan MPRS N0 25/1966 adalah penting tidak hanya bagi golongan PKI atau eks-PKI, melainkan juga untuk kepentingan seluruh bangsa, termasuk anak-cucu bangsa kita di kemudian hari.”
Url bukti: http://lembaga-pembela-korban-1965.blogspot.co.id/2010/12/ketetapan-mprs-no-251966-tentang.html

Sidang Mahmilub dan Keterlibatan PKI dalam Gerakan 30 September 1965

“Bahwa sejumlah tokoh utama PKI terlibat dalam Gerakan 30 September 1965 dan kemudian melahirkan Peristiwa 30 September 1965 –suatu peristiwa di mana enam jenderal dan satu perwira pertama Angkatan Darat diculik dan dibunuh– sudah merupakan fakta yang tak terbantahkan. Bahwa ada usaha merebut kekuasaan dengan pembentukan Dewan Revolusi yang telah mengeluarkan sejumlah pengumuman tentang pengambilalihan kekuasaan, kasat mata, ada dokumen-dokumennya.”

pelantikan-hakim-hakim-mahmi

Gambar 20. Pelantikan hakim-hakim Mahmilub di istana Bogor oleh Presiden

Berikut ini contoh kegiatan Mahmilub Pemberontakan PKI1965 yakni mengadili para gembong PKI

Sudisman. Pada susunan organisasi PKI 1948 dia terlibat dalam pemberontakan tersebut (dan terlibat juga pada pemberontakan 1965) menjabat sebagai Ketua Departemen Organisasi, Sudisman (lihat susunan pengurus CC-PKI 1948 pada uraian yang telah lewat).

Sudisman, anggota Polit biro CC PKI, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Mahmilub tahun 1967 dengan tuduhan terlibat peristiwa 1965. Di tahun itu juga ia dieksekusi.

Mahmilub-mengadili-Sudisman-

Gambar 21. Mahmilub mengadili Sudisman, tokoh PKI

Pada minggu pertama Oktober 1965, 5 dari pucuk pimpinan PKI, cuma Sudisman yang berada di Jakarta sementara 3 orang ada di Jawa Tengah : Aidit, Lukman dan Sakirman sedangkan Nyoto di Sumatra Utara.

Sudisman sendiri sempat melewati masa pelarian dan sembunyi. Pada masa pelarian inilah, ia berhasil membuat Pledoi atau KOK partai.
Pledoi Sudisman yang mengatasnamakan Polit Biro CC-PKI sendiri diselesaikan di Jawa Tengah, Bulan September 1966.
Pledoi Sudisman ini juga dianggap telah mengakhiri pertentangan dalam faksi-faksi PKI akibat G 30 S yang gagal.

وشهد شاهد من أهلها
Dalam Pledoi itu Sudisman menyatakan:

⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬
Malapetaka yang telah menimbulkan kerugian berat kepada PKI dan gerakan revolusioner rakyat Indonesia sesudah terjadi dan gagalnya “Gerakan 30 September” telah menyingkapkan tabir yang dalam waktu cukup lama menutupi kelemahan-kelemahan berat PKI. Pimpinan PKI telah menjalankan avonturisme yaitu dengan mudah saja tanpa mengindahkan ketentuan-ketentuan organisasi melibatkan diri ke dalam “Gerakan 30 September” yang tidak berdasarkan kesadaran dan keyakinan yang tinggi massa rakyat. Dan karena itu telah menyebabkan terpencilnya partai dari massa rakyat. Sebaliknya msesudah kalahnya “Gerakan 30 September” pimpinan partai menjalankan garis oportunisme kanan yaitu menyerahkan nasib partai dan gerakan revolusioner pada kebijaksanaan Presiden Sukarno. Ini adalah puncak kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan berat PKI baik di bidang ideologi, politik dan organisasi”
⏫⏫⏫⏫⏫⏫⏫

Sudisman, akhirnya tertangkap di daerah terpencil Tomang pada tanggal 6 Desember 1966.
Url: https://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/sudisman-tidak-suka-menangis/

Pengakuan-Sudisman

Gambar 22. Pengakuan Sudisman, gembong CC-PKI yang terlibat dalam pemberontakan 1948 & 1965

Silakan download Pledoi Lengkap Sudisman atas nama CC-PKI pada link berikut:
http://tinyurl.com/ztv77sb

Nyono

Berikut cuplikan pembelaannya pada sidang Mahmilub 19 PEBRUARI 1966.
Nukilan:
“Yth, Saudara Ketua dan para Anggota Mahmillub,

Terima kasih sebesar – besarnya saya sampaikan kepada Mahmillub yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk membuat pembelaan.

Waktu memulai menyusun pembelaan ini dikamar tahanan yang bertembok – beton dan berterali – besi, mendesinglah di telinga saya nada yang bersemangat kuat dari sebuah lagu baru yang tercipta di Rumah Tahanan Khusus Salemba. Lagu baru ini adalah lagu “Barisan Sukarno”…..

Dalam Amanat Presiden Sukarno dihadapan wakil – wakil Partai Politik di Guesthouse Istana, Jakarta, tanggal 27 Oktober 1965, ditegaskan bahwa “….kejadian 30 September bukan sekedar kejadian 30 September, tetapi adalah suatu kejadian politik di dalam Revolusi kita”. Selanjutnya dinyatakan, bahwa untuk dapat bertindak bijaksana tidak gegabah, harus diselidiki dan dipelajari proloog, fakta peristiwanya sendiri dan epiloog dari pada “G. 30. S”. Penegasan Presidaen ini saya jadikan pedoman dalam membahas persoalan “G.30.S”.

Saya sudah kemukakan bahwa proloog daripada “G.30.S” adalah adanya rencana kudeta dari Dewan Jenderal. Dalam bahasa sehari – hari dapat dikatakan bahwa gara – gara ada Dewan Jenderal maka ada Dewan Revolusi. Ada atau tidak ada Dewan Jenderal itulah persoalan politik yang pertama – tama harus diselesaikan. Dengan adanya persidangan Mahmillub sekarang ini, persoalan Dewan Jenderal telah menjadi persoalan terbuka bagi Rakyat. Saya percaya bahwa Rakyat pasti akan ikut membicarakannya berdasarkan pengalaman – pengalaman politik Rakyat sendiri. Dan selama darah Rakyat masih mengalir, Rakyat akan menjadi hakimnya yang akan menentukan siapakah yang benar dan yang salah, siapakah yang emas dan yang loyang…..

Saya mengakui bahwa saya telah melakukan serentetan kegiatan membantu “G.30.S”. Tetapi saya menolak dakwaan bahwa dengan membantu “G.30.S” itu maka saya telah melakukan perbuatan penggulingan atau pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah yang ada. Satu – satunya barang bukti yang diajukan oleh Oditur selama dalam pemeriksaan Mahmillub adalah adanya Dekrit No.1 dari “G.30.S” tentang pembentukan Dewan Revolusi dan pendemisioneran Kabinet Dwikora. Tetapi dalam menggunakan Dekrit No.1 tersebut sebagai barang bukti tidak dilakukan secara konsekwen. Dalam Dekrit tersebut – dinyatakan, bahwa “Gerakan 30 September adalah gerakan semata – mata dalam tubuh Angkatan Darat untuk mengakhiri perbuatan sewenang – wenang Jenderal – jenderal anggota Dewan Jenderal dst-nya”. Dibagian lain daripada Dekrit No.1 tersebut – dinyatakan bahwa “G.30.S” adalah suatu “Gerakan pembersihan terhadap anggota – anggota apa yang menamakan dirinya Dewan Jenderal yang telah merencanakan kup menjelang hari Angkatan Bersenjata 5 Oktober 1965”. Maka itu dalam keterangan saya pada waktu pemeriksaan telah saya jelaskan bahwa didimisionerkannya Kabinet Dwikora adalah karena dalam kabinet tersebut terdapat unsur – unsur Dewan Jenderal.

Bahwasanya “G.30.S.” bukanlah suatu pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah yang ada, tetapi suatu gerakan pembersihan, hal ini tidak hanya dinyatakan dalam pengumuman dan dekrit Dewan Revolusi, juga dibuktikan oleh perbuatan – perbuatan konkritnya.”
Url: https://lawe610.wordpress.com/2008/12/05/pembelaan-nyono-dimuka-mahmillub/

pembelaan-nyoto

Gambar 23. Saya mengakui bahwa saya telah melakukan serentetan kegiatan membantu “G.30.S”. Tetapi saya menolak dakwaan bahwa dengan membantu “G.30.S” itu maka saya telah melakukan perbuatan penggulingan atau pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah yang ada.

Kesimpulan:
PKI berada dibalik G30S, dengan dalih membela Presiden Sukarno, secara pribadi maupun untuk mengamankan “REVOLUSI” yang sedang dijalankan Presiden Sukarno. Peristiwa G30S merupakan puncak dari aksi revolusi atau kudeta PKI di Indonesia, yang sebelumnya sudah didahului dengan berbagai aksi kekerasan (pembunuhan) terhadap warga masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, yang menentang keberadaan komunis (PKI).

Subandrio

Dr. Soebandrio (Surabaya, 15 September 1914 – Jakarta, 3 Juli 2004) adalah tokoh politik Indonesia.
Soebandrio menempuh pendidikannya di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta (GHS) dan pernah menjabat sebagai:
Menteri Luar Negeri dalam kabinet Djuanda masa kerja 9 April 1957 – 10 Juli 1959
Menteri Luar Negeri dalam kabinet Kerja I masa kerja 10 Juli 1959 – 18 Februari 1960
Menteri Luar Negeri dalam kabinet Kerja II masa kerja 18 Februari 1960 – 6 Maret 1962
Wakil Menteri Pertama II dalam kabinet Kerja III masa kerja 6 Maret 1962 – 13 November 1963
Wakil Menteri Pertama/Menteri Luar Negeri dalam kabinet Kerja III masa kerja 6 Maret 1962 – 13 November 1963

Tahun 1966 Soebandrio dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa dengan tuduhan terlibat dalam G30S/PKI. Hukuman ini kemudian diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup dan akhirnya pada tahun 1995, ia dibebaskan dari penjara karena alasan kesehatan.
Setelah sembilan tahun dibebaskan dari penjara, Soebandrio meninggal dunia dalam usia hampir 90 tahun, 3 Juli 2004. Jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan.
Url: http://koleksitempodoeloe.blogspot.co.id/2013/07/buku-langka-tentang-pki-sangkur-adil.html

Nukilan:
“..Kalau Aidit mendukung pembunuhan anggota Dewan Jenderal, memang ya. Dalam suatu kesempatan, saya dengar Aidit mendukung gerakan membunuh anggota Dewan Jenderal yang dikabarkan akan melakukan kudeta terhadap Presiden. Sebab, kalau sampai Presiden terguling oleh kelompok militer, maka nasib PKI selanjutnya bakal sulit.” (Bandingkan dengan dialog Aidit dan Mao Tse Tung,-peny.)

“…Saya juga pernah ditugaskan berkunjung (sebagai Menlu) ke Beijing, RRC dan diberi tawaran bantuan senjata gratis oleh pimpinan RRC. Sedangkan Moskow dan Beijing adalah poros utama komunis.”

“Isu Dewan Jenderal sebenarnya bersumber dari Angkatan Kelima. Dan seperti diungkap di bagian terdahulu, Angkatan Kelima bersumber dari rencana sumbangan persenjataan gratis dari RRT. Tiga hal ini berkaitan erat. Pada bagian terdahulu diungkapkan bahwa tawaran bantuan persenjataan gratis untuk sekitar 40 batalyon dari RRT diterima Bung Karno. Hanya tawaran yang diterima, barangnya belum dikirim. Bung Karno lantas punya ide membentuk Angkatan Kelima. Tapi Bung Karno belum merinci bentuk Angkatan Kelima itu.

PKI-usulkan-15-juta-massa-ta

Gambar 24. PKI usulkan 15 juta massa tani dan buruh dipersenjatai (sumber Buku Ahmad Yani: Sebuah Kenang-Kenangan)

Ternyata Menpangad Letjen A Yani tidak menyetujui ide mengenai Angkatan Kelima itu. Para perwira ABRI lainnya mengikuti Yani, tidak setuju pada ide Bung Karno itu. Empat angkatan dinilai sudah cukup.

Jenderal-Ahmad-Yani-menolak-

Gambar 25. Penolakan Letjend. A. Yani  atas usulan Pembentukan  Angkatan V oleh PKI (sumber Buku Ahmad Yani: Sebuah Kenang-Kenangan)

Karena itulah berkembang isu mengenai adanya sekelompok perwira AD yang tidak puas terhadap Presiden. Isu terus bergulir, sehingga kelompok perwira yang tidak puas terhadap Presiden itu disebut Dewan Jenderal. Perkembangan isu selanjutnya adalah bahwa Dewan Jenderal akan melakukan kup terhadap Presiden.”
http://www.polarhome.com/pipermail/nusantara/2002-October/000409.html

Sidang-Mahkamah-Militer-Luar

Gambar 26. Sidang Mahkamah Militer Luar Biasa jang memeriksa dan mengadili
perkara Hadji Dokter Subandrio (nampak foto Presiden Sukarno sebagai latar belakang)

Dari pengakuan Subandrio di atas nampak bahwa gerakan CC-PKI untuk menghabisi “Dewan Jenderal” dengan dalih “Dewan Jenderal” akan melakukan kudeta telah beredar di kalangan PKI dan orang-orang dekat yang berhubungan dengan mereka sebelum peristiwa G30SPKI. Sokongan senjata gratis yang dijanjikan Komunis RRC adalah jaminan tersendiri untuk mempersenjatai kekuatan yang setara dengan 40 Bataliyon bagi pihak Komunis PKI dan yang sebarisan dengannya. Maka bagaimana TNI akan menyetujui untuk mempersenjatai Angkatan ke-5 setelah PKI terbukti memiliki track record memberontak pada tahun 1948 terlebih dengan aksi-aksi provokatif yang sudah mereka lakukan di berbagai daerah sebelum meletusnya G30SPKI?!

Sangkur-Adil-proses-penyidan

Gambar 27. Sangkur Adil, proses penyidangan Soebandrio di Mahmilub

Sekarang kita tanyakan kepada PKI dan para mucikarinya:

Siapakah yang disidang dalam Mahmilub ini yang dibentuk oleh Presiden Sukarno untuk mengadili siapa saja yang bersalah dalam peristiwa 1965 tersebut?!
Bukankah kader-kader utama PKI, yang terlibat bersama PKI serta gembong senior CC-PKI dan yang sudah memiliki pengalaman terlibat dalam pemberontakan PKI 1948?!
Bukankah gembong PKI kalian sendiri yang mengakui keterlibatan PKI dalam peristiwa pemberontakan 1965?!
Lalu kenapa kalian bersama advokat mucikariwati para PKI sampaipun ke Belanda menjajakan dagangan PKI tanpa rasa malu menyalah-nyalahkan dan mengadili pemerintah RI dan berupaya keras mencuci tangan PKI yang berlumuran darah para Jenderal dan umat Islam justru setelah gembong PKI sendiri mengakui keterlibatan PKI dalam peristiwa 1965?!
Allahul musta’an.

Dan kami mengingatkan dengan dialog Ketua CC-PKI Aidit bersama Ketua CC-PKC, Mao Tse Tung:

Mao: “Kamu harus bertindak cepat.”
Aidit: “Saya khawatir TNI AD jadi penghalang.”
Mao: “Habisi jenderal-jenderal reaksioner dalam satu kali pukul mereka akan menjadi seekor naga tanpa kepala yang tunduk pada perintahmu.”
Aidit: “Berarti kami harus membunuh banyak jenderal?”
Mao: “Di Shensi Utara saya bunuh 20 ribu pembangkang dalam satu kali pukul.” (Anatomi The Jakarta Coup, 1965, hal. 96).
Url: http://bit.ly/259nmUD

Para-pemimpin-PKI

Gambar 28. Para pemimpin PKI, DN. Aidit dan Sudisman bersama bapak besar komunis Cina, Mao Tse Tung

Apakah para Mucikari PKI dan kader PKI masih berlagak pilon berakting sebagai pembela dan pejuang HAM (Hak Asasi Manusia) dan menari-nari di depan umat Islam Indonesia di atas tragedi HAM berdarah dari 20 ribu pembangkang yang dihabisi rekanan utama dakwah PKI kalian, “Kawan” Mao Tse Tung dalam satu kali pukul?!?!??!

Dimana teriakan Hak Asasi Manusia (HAM) kalian wahai mucikari PKI jika yang melakukan pembantaian dan penumpasan terhadap terhadap orang-orang anti komunis itu adalah saudara Komunis kalian sendiri jika kalian memang benar membela Hak Asasi Manusia? Adakah beda nilai Hak Asasi Manusia Komunis dengan Hak Asasi Manusia Anti-Komunis di sisi kalian?

Ataukah HAM yang kalian teriakkan sebenarnya adalah propaganda HAntu Militer (HAM) untuk membuat militer takut dan ragu bertindak sehingga para Komunis dan para mucikarinya bebas menanamkan serta menyebarluaskan paham kufur Komunis dengan agitasi dan propaganda Revolusioner untuk melawan dan menggulingkan pemerintah dan menggantinya dengan Comite Central Partai Komunis?!?!

Antara Tuduhan & Fakta

Anasir-anasir PKI dan para komprador PKI (sebagaimana kasus pemberontakan PKI 1948) berupaya keras mengelabui dan menyamarkan gerakan pemberontakan mereka pada tahun 1965 dini hari tersebut dengan menuding sebagai hasil rekayasa Letkol Untung dan Jenderal Suharto disamping menuding bahwa Supersemar adalah akal-akalan militer, Jenderal Suharto dkk. saja.

Pidato HUT RI 17-8-1966
10 bulan setelah percobaan kudeta oleh PKI dengan gerakan penculikan dan pembantaian terhadap para Jendral Angkatan Darat…

Inilah nukilan penting dari pidato terbuka Presiden di depan khalayak ramai masyarakat Indonesia di Jakarta pada peringatan HUT RI pada tanggal 17 Agustus 1966.

02:08 …(tentang Supersemar*) “SP Sebelas Maret adalah satu perintah pengamanan, perintah pengamanan jalannya pemerintahan, pengamanan jalannya ini pemerintahan, demikian kataku dalam melantik kabinet.
Kecuali itu juga perintah pengamanan pribadi Presiden, perintah pengamanan wibawa Presiden, perintah pengamanan ajaran Presiden, perintah pengamanan beberapa hal ??dan JENDERAL SUHARTO TELAH MENGERJAKEN PERINTAH ITU DENGAN BAIK dan saya mengucap TERIMAKASIH KEPADA JENDERAL SUHARTO akan hal ini…. “⚡️⬅️

Anasir-PKI-tanpa-rasa-malu-s

Gambar 29. Anasir PKI tanpa rasa malu sedikitpun menghujat pemegang mandat Supersemar, Jenderal Suharto dalam keadaan yang bertandatangan sendiri, Presiden Sukarno tegas mengucapkan terima kasih dan pujiannya kepada pemegang mandat Supersemar yang telah melaksanaken perintahnya dengan baik. Masih punya muka mengaku sebagai pembela Sukarno?!?!

03:44 “Sudah terang GESTOK (Gerakan Satu Oktober, lebih dikenal G30S PKI) KITA KUTUK!! DAN SAYA..SAYA MENGKUTUK PULA!! Dan seperti sudah kukatakan berulangkali dengan jelas dan tandas YANG BERSALAH HARUS DIHUKUM. Untuk itu aku bangunken Mahmilub (Mahkamah Militer Luarbiasa) …”

*Surat Perintah Sebelas Maret atau Surat Perintah 11 Maret yang disingkat menjadi Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966.

Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.

Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan dari Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan bahwa terdapat berbagai versi Supersemar sehingga masih ditelusuri naskah supersemar yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor.
Url: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Surat_Perintah_Sebelas_Maret

1⃣⏩Dari film dokumenter tersebut nampak dengan jelas bahwa Surat Perintah Sebelas Maret 1966 (dengan segala kontra-versinya, lihat link di atas) takkan bisa dipungkiri fakta sejarah tentang penegasan ucapan gamblang terima kasih dan pujian Presiden Sukarno kepada Jendral Suharto selaku pemegang mandat Supersemar.
⬆️⬆️⬆️

Apakah PKI juga akan berteriak pula bahwa Presiden Sukarno mengucapkan pidato terima kasih kepada Jendral Suharto di hadapan ribuan khalayak masyarakat itu dalam keadaan ketakutan karena ditodong senjata oleh Jenderal-jenderal TNI AD ataukah itu merupakan bukti tak terbantahkan atas pengakuan Presiden bahwa Jenderal Suharto telah melaksanakan Perintah Supersemar dengan baik?!?!?!

02:08 …(tentang Supersemar*) dan Jenderal Suharto telah mengerjaken perintah itu dengan baik dan saya mengucap TERIMAKASIH KEPADA JENDERAL SUHARTO akan hal ini….

Antara peristiwa pemberontakan 1 Oktober 1965 sampai dengan pidato HUT 17 Agustus 1966 ada kurun waktu 10 bulan dimana militer bersama rakyat melakukan pembersihan, penangkapan dan penumpasan terhadap pemberontakan PKI (dalam salah satu tulisan disebutkan: “Pembantaian anggota PKI dimulai pada Oktober 1965 dan memuncak selama sisa tahun sebelum akhirnya mereda pada awal tahun 1966”).

Taruhlah sejenak kita mengikuti alur berpikir nakal PKI dan yang sebarisan dengannya bahwa Presiden Sukarno menandatangani Supersemar dalam keadaan ditodong senjata oleh para Jenderal TNI AD yang menemuinya, bukankah pidato ucapan terima kasih dan pujian Presiden RI Sukarno kepada Jenderal Suharto yang dikatakannya telah melaksanaken Supersemar dengan baik tersebut adalah bukti tak terelakkan bahwa Presiden telah mengucapkan terimakasih kepada pihak militer yang telah menodongnya untuk menandatangani Supersemar?!

Jika peristiwa penumpasan pemberontakan 1965 disebut PKI dan para sponsornya sebagai tragedi pembantaian besar-besaran oleh “rezim militer Suharto dkk.”, bukankah UCAPAN TERIMA KASIH PRESIDEN SUKARNO pada 17-8-1966 -YANG MEMBERIKAN MANDAT PEMULIHAN KEAMANAN PASCA PEMBERONTAKAN PKI- KEPADA JENDREAL SUHARTO YANG (DIAKUINYA DI DEPAN PUBLIK RAKYAT INDONESIA) TELAH MELAKSANAKEN DENGAN BAIK MANDAT TERSEBUT SUDAH CUKUP SEBAGAI BUKTI UNTUK MENYERET (PULA) PRESIDEN SUKARNO SEBAGAI TERTUDUH DAN SALAH SATU DALANG UTAMA YANG MELEGALISIR PEMBANTAIAN TERHADAP PKI YANG KALIAN TUDUHKAN?!

Lalu kenapa Jenderal Suharto saja bersama militer yang mereka kambinghitamkan sementara Presiden Sukarno ketika itu yang jelas-jelas dalam pidatonya berterima kasih kepada Jenderal Suharto dan memujinya telah melaksanaken perintah Presiden dalam operasi pemulihan keamanan dengan baik dibiarkan lepas bebas oleh PKI dan sponsornya tanpa sehurufpun tuduhan dan hujatan?!
Tidakkah PKI dan para mucikarinya mau berfikir?!?!

2⃣⏩Kedua, Penegasan Presiden Sukarno bahwa rakyat Indonesia dan Presiden sendiri (sampai dua kali menyebut kata “Saya”) mengutuk peristiwa pemberontakan Gestok/G30S-PKI ?dalam keadaan Presiden Sukarno juga mengucapkan pidato terima kasih kepada Jendral Suharto di hadapan ribuan khalayak masyarakat? sehingga sungguh sebuah ironi dan lelucon yang tak lucu jika kemudian PKI dan para simpatisan serta pembelanya masih pula berupaya menipudaya dengan berakting di hadapan umat sebagai pembela Sukarno (setelah terbongkarnya makar pengkhianatan PKI dan kutukan rakyat Indonesia dan kutukan Presiden sendiri terhadap peristiwa pemberontakan 1965 tersebut). Allahul musta’an.

03:44 Sudah terang GESTOK (Gerakan Satu Oktober, lebih dikenal G30S PKI) KITA KUTUK!! DAN SAYA..SAYA MENGKUTUK PULA!!

Lalu bagaimana mungkin ada orang-orang neo-PKI yang mengaku sebagai pembela Sukarno dan berlindung di balik poster Sukarno setelah keluar kutukan Presiden terhadap Gestok/G30S-PKI pada 17 Agustus 1966?!?!
Alangkah miripnya hari kemarin dengan hari ini? Modus tipuan strategi propaganda Neo-PKI di belakang poster Sukarno dengan makar yang dilancarkan oleh Syiah terhadap Islam dan kaum muslimin dengan berkedok sebagai pembela Ahlul Bait yang sesungguhnya Syiah sendirilah yang membantai Ahlul Bait Nabi di Karbala!!

3⃣⏩Lihat dan dengarkan penegasan Presiden pada pidato HUT 17-8-1966:
“Dan seperti sudah kukatakan berulangkali dengan jelas dan tandas YANG BERSALAH HARUS DIHUKUM. Untuk itu aku bangunken Mahmilub (Mahkamah Militer Luarbiasa) …”

Di atas sejarah makar kekejaman Komunis, pengkhianatan keji penculikan dan pembantaian para Jenderal TNI AD yang dilakukan oleh PKI dan kutukan Presiden Sukarno itulah muncul orang yang m Akhirnya legalisasi PKI sudak tidak mampu dipertahankan oleh pengikutnya. Lewat ketetapan MPRS-RI. NO.XXV/MPRS/1966, PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah negara Republik Indonesia. Bukan itu saja, lewat ketetapan yang sama, paham Komunis dan Marxis-Leninisme dinyatakan haram berada di negara Indonesia mempertontonkan rasa bangga sebagai anak PKI Komunis!!!!

bangga-jadi-anak-PKI

anak-PKI-masuk-parlemen

berani-unjuk-PKI-bekingnya-o

Gambar 30. Sukarno: “Sudah terang GESTOK (Gerakan Satu Oktober, lebih dikenal G30S PKI) KITA KUTUK!! DAN SAYA..SAYA MENGKUTUK PULA!!” (Lalu bagaimana kamu bangga dari PKI? -peny.)

Foto dan profil Sukarno hanya sebagai kedok (baca: tipuan) untuk melariskan dagangan neo-PKI (terkutuk) dan para mucikarinya?!?!

Sungguh PKI adalah tukang makar, bengis dan kejam, musuh agama dan pengkhianat bangsa, maka bagaimana kita akan heran jika mereka untuk mengais pengikut dari kalangan musuh-musuh agama dan para penjahat mesti menempuh jalur agitasi propaganda dengan jalan lacur dan mendusta untuk melariskan Komunisme dagangan busuk dan kufurnya yang bahkan lebih kufur daripada Yahudi dan Nasrani?!?!?

Disusun dari berbagai sumber dengan beberapa penyesuaian. Allahu a’lam. (Jasmerahpki)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: